Bahasa lokal* hari ini
Bahasa lokal* hari iniOleh: Dhanang P, XI A 1
Indonesia, merupakan suatu Negara dengan banyak suku, ras, dan bahasa yg di satukan dalam suatu bangsa, yaitu bangsa Indonesia,. Banyaknya bahasa daerah/lokal di Indonesia menunjukan tinggkat kepintaran berbahasa para leluhur kita.
Dewasa muncul pelbagai polemic tentang tergerusnya bahasa2 lokal oleh globalisasi, hilangnya pembelajaran bahasa lokal di jenjang pendidikan sma turut menjadi sorotan, walau sebenarnya tidak semua sma mentiadakan pelajaran berbahasa local, missal di tuban pembelajaran bahasa local tetap ada, dari jenjang pendidikan sd, smp, sampai dengan sma. beda lagi dengan di banyuwangi, selain pembelajaran bahasa daerah tetap ada di jenjang sd sampai sma, dinas kebudayaan di sana juga telah menerbitkan buku2 cerita berbahasa local, yg disadur dari buku2 cerita berbahasa Indonesia, dan asing dengan tujuan bahasa lokal di sana tetap ada, dan berkembang, selain untuk menghibur tentunya .
Walaupun di sebagian daerah bahasa lokal tidak di ajarkan di jenjang sma –termasuk sma bakti- tapi sebenrnya kekawatriran tergerusnya bahasa local oleh globalisas, tidak perlu di besar2 kan, karna kenyataanya sebagian besar orang Indonesia dalam keseharianya menggunakan bahasa local daerahnya masing2, ketimbang menggunakan bahasa Indonesia, dan bahkan menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahsa ke dua.
Di daerah jogja masih banyak ditemukan orang2 yg menggunakan bahasa local, walaupun jogja merupakan daerah wisata yg sering didatangi wisatawan asing, maupun domestic sehingga kemungkinan pencampuran bahasa sangat besar .kenyataan yg sama juga kan kita temui di daerah bali, seperti system penamaan anak disana yg unik, orang bali juga mempunyai cara agar bahasa daerah di sana tidak hilang, konon pendatang ataupun wisatawan yg dapat menggunakan bahasa local bali akan sangat dihormati dan akan di bantu dengan sepenuh hati layaknya saudara, sehingga penggunaan bahasa local di sana masih tetap ada walaupun globalisasi di sana sangat radikal.
Seperti kata mbah marijan, “saya itu orang kecil, ya harusnya pakai bahasa orang kecil, saya tidak mau pakai bahasa Indonesia, nanti di bilang sombong”. Sehingga angka orang miskin di Indonesia yg tinggi membuat kekawatiran justru harus tersorot pada bahasa ibu di Indonesia(bahasa Indonesia), karma kenyataanya mayoritas penggunaan bahasa indinesia berada di daerah perkotaan. Lalu bagaimana dgn yg ada di kabupaten, dan daerah ? kebanyakan mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam forum formal saja, selebihnya mereka kembali ke bahasa keseharian mereka, bahasa lokal.
Sebenarnya penghapusan pelajaran bahasa lokal di jenjang sma sudah sangat tepat, selain karna pembelajaran bahasa lokal sudah terlalu too much, sifat kedaerahan juga dapat terbentuk dari pembelajaran sastra daerah yg berlebihan, yg kedepanya dapat berdampak buruk terhadap proses sosialisasi seseorang . Bukan kah dalam sumpah kita –sumpah pemuda- sudah jelas . “kita putra putri Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia” . sehingga seharusnya pembelajaran bahasa lokal saat di sd, dan smp menjadi pengenalan jati diri, dan kebudayaan daerahnya, dan saat di sma para siswa lebih belajar kepada sastra Indonesia, karna pada jenjang berikutnya siswa kebanyakan berpindah ke daerah lain, sehingga para siswa tidak terlalu sulit ber sosialisasi dengan kebudayaan baru di sekitar mereka.
Pada akirnya kita sebagai anak daerah harus dan wajib menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah, baik dengan belajar, dan mengajarkanya. Tetapi pada dasarnya apapun asal kesukuan, dan daerah kita. Indonesia adalah wadah kita, dan Indonesia adalah pemersatu kita, dan perbedaan lah yg menciptakan Indonesia. Maka kita harus mengenal kesukuan dan kedaerahan kita sebelum benar2 mengenal Indonesia.
* : bahasa2 daerah di Indonesia, termasuk bahasa jawa tentunya

